Rabu, 22 Februari 2017

😞

Aku pernah jadi yang terbaik, terlunta2, mengabdi sepenuh hati.. 


Aku pernah...

Selasa, 21 Februari 2017

Pilihan.

Hidup memang tidak pernah lepas dari pilihan.. Saat ini pilihanku cuma dua : 

1. Seumur hidup menelan kecewa, kesepian, sakit hati terus menerus, amarah yang tak kunjung padam tapi hidup berkecukupan tanpa memikirkan bagaimana menyambung hidup.

2. Sengsara, terlunta-lunta, super miskin, tapi bebas dan bahagia.

Demi Tuhan aku lelah bersedih, lelah kecewa, lelah menangis sendirian. Lelah menghadapi banyak hal sendirian. Kenapa aku tidak boleh bahagia Tuhan? Kenapa aku selalu Kau posisikan dalam keadaan yang sama di situasi yang berbeda? Sedari kecil aku terus menerus ketakutan dan tertekan. Kini pun sama, dengan banyak pernik-pernik tambahan yang makin menghancurkan. 

Aku hanya ingin bahagia Tuhan. Disisa umurku yang semakin menua ini. Aku ingin dipeluk dan dimengerti. Didukung dan diperlakukan selayaknya aku penting. Bukan karena egois dan harga diri. 

Aku lelah membasahi bantalku, 
seakrab apapun aku dengan situasi itu sedari aku kecil hingga kini, namun sungguh aku muak. Muak menanggung semuanya sendirian. 

Beri aku petunjukMu Ya Allah, sebelum aku tidak waras dan mulai mengiris-iris nadiku sendiri. Bujukan setan ini terlalu kuat. Tolong aku 😭

Aku tahu Engkau mengganggap aku kuat, sehingga terus menerus Kau cobai. Kapan aku lulus ujian Ya Allah? 

Rabu, 26 Oktober 2016

The Story Of Mendung

Lemme tell you this story... 

Sering bukan, kita melihat matahari yang tertutup awan seharian? Yes, kita menyebutnya mendung. Sering juga mendung kita analogikan dengan banyak hal. Seperti perasaan seseorang atau keadaan tertentu dimana hari memburuk yang dialami sebagian besar orang. Let's see the new perspective. Kita uraikan secara sederhana saja. Let's math this one, mendung yang menyejukkan terutama dipagi hari lebih dikhawatirkan sebagian besar orang. Banyak sekali kekhawatiran. Bagaimana cucian hari ini, bagaimana berangkat kerja/sekolah, bagaimana dagangan hari ini. Wajar, semua orang punya kepentingan. Yang paling ditakutkan adalah saat turunnya hujan disaat yang tidak tepat. Tapi kak, kapan tepatnya waktu hujan yang pas? Ini pun kita tidak bisa menyama-ratakan timing "tepat" untuk semua orang. 

Bagiku mendung lebih sering memanjakan. Matahari atau bintang dan bulan untuk sementara ter-cover awan gelap. Ini terkadang bisa sangat membuat nyaman kita yang tepat berada di bawahnya. Memanjakan dengan udara dinginnya, atau udara hangatnya kadangkala menyiksa. 

Mari berpura-pura menjadi matahari. Seolah-olah kita diberi waktu untuk beristirahat. Tanpa membuat bumi benar-benar gelap. Karena cahayanya masih mampu menerangi semua sudut jalanan. Selama ini akulah matahari tanpa tertutup awan gelap, dan ketika malam datang, seluruh bumi diliputi kegelapan. Kalian masih bisa menyalakan lampu tanpa aku. Tapi aku lebih memilih tertutup sedikit awan gelap daripada tenggelam dan digantikan lampu-lampu buatan. Mungkin mengatakan aku lelah terhadap apa yang sedang aku perjuangkan adalah kesalahan besar. Tapi sekalipun matahari tetap membutuhkan awan gelap. Dan semua orang merasa berhak untuk menghakimiku.

Pagi ini mendung menggayut... terimakasih karena sudah tidak pernah mengerti. Selamat pagi😘

Sabtu, 22 Oktober 2016

Tentang keyakinan

Lemme learn something... 

Pohon manggaku berbuah banyak sekali tahun ini. Masih amazed aja, mengingat sebelum2nya hanya bisa ileran melihat tetangga-tetanggaku semua panen mangga super banyak. Bergelantungan sampai tepi jalan seolah-olah mengejek, "Mana pohon manggamu? Mandul ya?" 

Tentu saja aku senang sekali, meskipun tidak sebagus dan sebanyak panenan sebelah-sebelah (namanya juga milik tetangga kan? Menurut quote-quote pasti lebih bagus dari milik kita haha..) 

Beberapa tahun lalu sering ada yang menyarankan, "Dilukai aja batang pohonnya, dibacok-bacok gitu pakai pisau atau parang." Akunya mana tega? Bukankan tanaman itu mahluk hidup? Makan juga, bernafas juga. Siapa tahu dia kesakitan? Sumpah tidak tega, lucu ya? Tidak mengapa, aku juga merasa lucu, kenapa berpikiran kalau saja aku dilahirkan bukan sebagai demit tapi sebagai tanaman, terus diperlakukan seenaknya sama demit-demit yang lain. Kan syediiih kaaaak... 

Jadi aku pasrah. Masalahnya aku pernah membeli tanaman jambu air bersamaan dengan tetangga sebelah, umur dan tinggi sama, kata mas penjualnya. Ketika ditanam, punya sebelah cepat sekali berbunga dan berbuah sementara milikku? Hahahaha begituuu deeeh... (Garuk-garuk ketombe) 
Aku pikir, meskipun manggaku mandul, tidak apa-apa nak, mama tetap menerimamu apa adanya. Setidaknya rumah mama jadi adem.. 

Tiba-tiba tahun ini berbuah banyak sekali. Girang bukan main. Mungkin ini juga diselipkan sama Allah buah-buah kesabaran bertahun-tahun. (kadang sabar sama cuek itu beda tipis haha.. Iyeeeee) Dan mungkin Awal semua bulan dalam tahun ini yang selalu buruk (ini menurutku, tolong jangan judgemental kesinisanku😂) Tersiram oleh panen mangga-mangga nan manis dipertengahan bulan dan tahun ini. Setidaknya ini pertanda baik. Eiits... Jangan salah! Pertanda baik untukku tentu beda persepsi sama pertanda baiknya mayoritas orang. Aku sedang membangun mimpi. Tekadku bulat. Tidak ada yang akan menggugurkan tekadku yang terlanjur bulat dan kata "Whateva" ku yang kuucapkan dalam hati. Universe pelan-pelan akan mendukungku, aku tahu itu. Dan panen mangga tahun ini, aku anggap salah satu dukungan mental. Hahaha absurd? Bukan aku, kalau normal-normal saja. 

Senin, 08 Juni 2015

Suatu pagi di warung soto..

Kurasa aku punya kebiasaan baru. Dengan harapan mendapatkan moodbooster setiap pagi, aku selalu mencoba sarapan di tempat - tempat makan berganti - ganti dengan bermacam - macam menu yang membuat pagi dan mengawali hari dan rutinitas jadi menyenangkan. Aku tidak suka terburu - buru makan pagi. Seperti kebanyakan orang - orang. Aku akan menikmati suapan demi suapan sambil memikirkan hal - hal menyenangkan. 

Pagi itu seperti biasa aku segera hunting. Tempat sarapan apa kira - kira yang bakal menyenangkan. Ah, iya.. Soto ayam lamongan! Yes, dan segera aku berangkat ke warung soto ayam lamongan langgananku. Sesampainya disana sambil menunggu pesanan sotoku, aku melihat dua orang anak kecil makan bersebelahan. Aku pikir laki - laki yang duduk berseberangan dengan mereka mungkin ayah mereka atau saudara mereka atau apalah.. Aku tidak ambil pusing. Sementara sotoku belum datang juga. Aku lihat laki - laki di seberang dua orang anak itu sudah tidak ada lagi. Rasa penasaranku datang. Pemandangan dua orang anak kecil sekitar umur 8-9 tahun makan sendirian di warung makan seperti ini tanpa didampingi oleh orang yang lebih tua itu langka. 
Sampai rasa penasaranku semakin menjadi. Aku bertanya pada mereka. (Aku sengaja duduk berseberangan namun satu meja dengan mereka.) "Makan sama siapa dek?" Salah satu anak itu yang terdekat denganku diam saja, tersipu - sipu. Namun anak yang lebih besar segera menjawab, "Berdua saja mbak." Sambil tersenyum manis.

 Lalu tiba - tiba dia bertanya kepada anak yang malu - malu tadi disebelahnya, "Sotoku sudah habis belum, dek?" Si anak di sebelah dia tersenyum dan menjawab, "Belum, mas. Sedikit lagi." 
Aku heran, mengapa dia bertanya seperti itu? Dia buta? Memang mata si anak itu agak aneh. Aku perhatikan sekilas tadi, sempat bertanya - tanya dalam hati, kenapa mata anak ini? Tapi perhatianku langsung teralihkan oleh soto pesananku. 
Iya, ternyata dia buta. Mas - mas penjual soto mendatangi mereka, seraya bertanya, "Ada yang mau nambah sotonya?" Dua orang anak itu menggeleng bersamaan. "Sudah kenyang, pak. Makasih." Mas penjual soto menambahi, "Kalau pagi dan kalian lapar, mau sarapan. Datang kesini aja ya.." Si anak yang buta tadi mengangguk dan menjawab, "Berapa  semua pak?" Mas penjual soto menggeleng. "Tidak usah dek, setiap pagi kalian boleh sarapan soto disini. Gratis." 

Aku yang sedang asyik dengan duniaku, dan tentu saja sotoku, langsung tertarik memperhatikan mereka lagi. "Kalian tinggalnya dimana, dek?" Kali ini anak yang sedari tadi diam, menjawab, "Panti asuhan 'A' mbak, di daerah 'B'." Aku semakin tertarik, "Kelas berapa dek?" "Aku kelas 2, mas yanto ini kelas 3." Sembari masih tersenyum malu - malu anak yang lebih kecil itu menjawab. 

Aku terdiam termangu. Sibuk dengan pikiranku sendiri tentang mereka. Sibuk memuji dalam hati mas penjual soto yang baik hati. Ketika aku menoleh ke kursi mereka, mereka telah berdiri dan berpamitan untuk pulang. 

Hari ini aku mengucap banyak rasa syukur atas apa yang aku punya. Mendapat pelajaran tentang kemurah hatian mas penjual soto. Aku bersyukur aku masih bisa melihat hal yang indah ini. Alhamdulilah Wasyukurilah... 

Minggu, 24 Mei 2015

Aku dan Kamu

Aku bergerak bersama waktu. Bergulir pasrah tanpa mau dihentikan oleh siapa saja. Aku ada bersama berbutir- butir debu yang lain. Mengendap bersama dalam kubangan dan menyelamatkan diri dari ketidak pastian. Aku ada bersamamu. Berlagak seperti musafir yang masih panjang perjalanannya. Waktu adalah sahabat. Yang tidak mungkin membunuhku begitu saja.

Kamu ada dalam deringan alarm dipagi hari. Dalam setiap nafas yang ku ambil satu demi satu. Kamu ada dalam segelas kopiku. Merambah dalam gelenyar udara yang sulit kuhirup. Kamu ada dimana - mana. Seperti aku juga ada dimana - mana. Dalam denyutan nadi yang tak mungkin dihentikan oleh manusia. 

Kita tidak akan pernah dipertemukan dalam situasi biasa. Saling bergesekan membelakangi. Saling bersentuhan secara alami. Membaur dalam satu nafas. Namun tak pernah bertemu mata. Kamu ada. Akupun ada. Melewati lorong waktu bersamaan. Mengendap dalam lara berdampingan. Namun tak pernah mengenal satu sama lain. 

Kamu adalah pikiran. Kamu adalah logika.

Aku adalah hati. Aku adalah perasaan.

Jumat, 10 April 2015

EPISODE 6 : DELUSI

Maaf yaaa teman, buat yang udah kirim kerangka karangan... Aku makin galau jadinya nentuin ending cerbung ini hahahaha... Masalahnya dikembangin jadi mentok semua. Gini aja deh, aku kasih bonus ending versiku aja kali yaaa... Jangan putus asa dong buat yang suka nulis tapi masih susah menterjemahkan apa yang bersliweran diotak menjadi bentuk tulisan... Keep tryiiiing!!! O iyaaaa... Buat BAYU HIMAWAN, ending kamu keren juga, buat pecinta happy ending.. Ntar kalo pada teriak - teriak minta happy ending, maka ending kamu bakal aku posting besok. TETEP DAPET STIKER YAAAAA... THANKS BANGET. Next episode mungkin thriller atau horor... Maaf buat yang request stensilan.. Aku kurang gape bikinnya. Karena stensilan itu gak enak dibaca. Tapi lebih enak dipraktekkan. Percayalah! Mwahahahahaha *ketawa setan


EPISODE 6 : DELUSI


Rendy menatap nanar langit - langit kamarnya. Pikirannya seakan kembali entah dari mana. Kenapa aku ada disini? Sejauh yang dia ingat, dia berada di koridor rumah sakit. Ryan... Iya Ryan! Astaga! Laki - laki itu celaka demi dirinya. Secepat kilat ia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Tapi... Kenapa semuanya jadi serba putih? Kenapa sepi sekali? Ada apa ini? Kenapa tangannya terikat kuat? Dan kenapa kepalanya pusing sekali?

Rendy berteriak - teriak panik. Seluruh tubuhnya mengajaknya meronta. Semua tenaga dikerahkan. Dan tidak satupun membuahkan hasil. Tiba - tiba pintu kamarnya terbuka. Beberapa lelaki dengan wajah datar masuk dan segera menenangkannya. Seorang wanita cantik berdiri dibelakang mereka. Penuh wibawa dan membujuk wanita itu berkata, "Rendy kenapa? Apa yang kamu rasakan? Kamu siap bicara sama saya? Cerita aja yuk! Pasti saya dengarkan." Rendy semakin panik. Itu Virly bukan? Itu Virly! 

"Virly.. Kamu..?" Pikirannya semakin kacau. Rendy memejamkan mata erat - erat. Mengusir panik dan kebingungannya. "Tenang Rendy, tenang dulu yaaaa... Iya saya dokter Virly. Masa kamu lupa sama saya? Sudah 3 tahun kamu disini Ren, saya rasa kamu benar - benar belum mengalami kemajuan sama sekali. Mungkin pengobatanmu berjalan ditempat. Tapi saya yakin dokter Ryan bisa membantu kita. Kamu masih ingat dokter Ryan kan? Iya dokter yang kakinya hanya satu. Yang sering kamu ejek. Bagaimanapun dokter Ryan lebih berpengalaman Ren. Saya hanya dokter baru yang sama sekali belum pernah menangani pasien seperti kamu. Tapi pendekatan saya dipuji lho oleh dokter Ryan. Saya harap kamu semakin tenang ya." 

Rendy mengerjapkan mata berkali - kali. Jadi ini apa? Mimpi? "Aku kenapa dokter? Aku sakit apa?" Semakin frustasi Rendy semakin kuat menggoyangkan kepalanya. Dokter Virly tersenyum dan menggegam tangan pasiennya penuh simpati. "Kamu kembali tersadar sebagai Rendy saja pun sudah kemajuan besar, bersabarlah, aku dan dokter Ryan pasti berusaha semaksimal mungkin." 

Hari berlalu, senja menggantung. Menampakkan semburat oranye yang indah. Rendy menatap jendela kamarnya yang berjeruji. Masih kebingungan dan tidak mengerti. Apa yang telah terjadi. Ingatannya memburuk belakangan ini. Dia bahkan tidak ingat momen - momen penting dalam hidupnya beberapa tahun ini. Semua seperti kabur. Terjebak dalam alam mimpi. Dia bahkan tidak bisa membedakan mana khayalannya dan mana kenyataannya. Seperti tertidur panjang dan memainkan plot - plot yang berkejaran seperti slide film yang diputar berulang - ulang. Ryan adalah dirinya juga. Bahkan Virly. Dia tenggelam dalam perannya sendiri. Mengesampingkan karakter utamanya. Di berada di dunianya sendiri. Kini dia seolah - olah terlempar kembali ke alam nyata. Sebagai seorang Rendy. Iya, Rendy yang kebingungan. Rendy yang tidak bisa menerima kenyataan. Karena semua yang dilaluinya hanyalah semu. Hanya ada dalam file - file otaknya. Otak memang serumit itu. 

Dokter Virly menatap pasiennya dari balik jeruji pintu. Tersenyum lega. Masih ada harapan Rendy... Masih ada harapan. 

-FIN-